Axa dan Pedang Kutukan

Suatu hari di sebuah desa terpencil, Axa seorang anak laki-laki sedang mengejar kancil. Semula aku tidak tahu namanya tapi akhirnya aku tahu namanya. Axa adalah namanya anak yang larinya gesit dan suka mengejar kancil. Lama kelamaan aku semakin akrab dengan Axa. Deiron adalah nama ayahnya, pedagang kayu di pasar kayu. Louis nama ibunya, seorang pengrajin kayu dari desa kayu di seberang sungai Hwan. Axa berjalan dari satu batu ke batu yang lain, menuruni bukit yang tinggi. Di sana Axa menemukan pedang. Pedang itu tertancap di tanah dan di sebelahnya ada tengkorak. Axa bertanya kepada warga-warga di desa itu. Tidak ada satupun yang mengetahui sejenis pedang ini. Dan akhirnya ada satu warga yang mengatakan bahwa pedang itu adalah pedang kutukan.

Kamis, 6 Mei 2010
Agastya Pandu Wisesa (GAGAS)

Sepak Bola

Gol.........,suara penonton bersorak atas kemenangan Tim Cakrawala mengalahkan Tim Elang.
“Ed...berapa skornya?” tanya Randy kepada Edi
“Skornya...3-1 kemenangan Tim Cakrawala”
“Yah....Tim Elang kalah deh....”
“Makanya... dukung dong Tim Cakrawala”
“Cakrawala itu musuhku tau...” kata Randy kepada Edi, apalagi musuhku Aldi ada di tim sana.
“Musuh? Kamu punya musuh, nggak baik tau punya musuh itu”
“Dia itu nakal”
“Enak aja, dia itu baik”
“Hei...! sudah...ribut apaan sih”
“Nih! Randy duluan”
“Nih! Edi duluan”
“Kok ...aku”
“Kamu kan yang duluan”
“Kamu”
“Kamu”

Berhenti hei..kenapa sih masalah kecil saja dimasalahkan.
Ayo cepat minta maaf ya rico.
Cepat....

Moral : Jangan suka bertengkar cuma masalah sepele.

Kamis, 6 Mei 2010
Agastya Pandu Wisesa (GAGAS)

Iri Hati

Hello, kata Rara kepada adiknya Ririn

“Rara....”
“Kak, dipanggil” kata Ririn kepada kakaknya
“Dipanggil siapa?”
“Dipanggil ibu” kata Ririn

Rara langsung mengunjungi ibu di kamar.
Ibu Rara dan Ririn bernama Ningsih.
Pada suatu hari Rara dan Ririn diajak jalan-jalan bersama ayahnya ke kolam renang Waterpark. Ayah Rara dan Ririn bernama Pak Budiman. Pak Budiman adalah pengusaha batik terkenal se-Jawa Timur.
Batik Pak Budiman terkenal oleh keindahannya, sangat indah untuk dipandang. Rara dan Ririn juga mempunyai cita-cita menjadi pengusaha batik terkenal. Kalau pekerjaan bu Ningsih adalah dokter gigi di Surabaya, di rumah sakit terkenal di Surabaya. Selain itu bu Ningsih juga punya usaha yang bercabang, usahanya adalah soto. Soto adalah makanan kesukaan bu Ningsih. Soto bu Ningsih sudah punya 10 cabang, ada yang di luar Jawa dan ada yang dalam Jawa.

Kamis, 6 Mei 2010
Agastya Pandu Wisesa (GAGAS)

Judul yang dibuat Gagas ini kurang tepat, mungkin yang dimaksud dalam cerita ini adalah keinginan Rara dan Ririn untuk menjadi seperti ayahnya, mereka punya keinginan yang diartikan Gagas sbg iri hati, padahal mungkin lebih tepat sebagai cita-cita)

Ketapel

Tak terasa sudah 2 hari berlalu, liburanku tinggal 5 hari lagi.Aku dan keluarga akan pergi ke Kediri untuk membeli makanan dan sekalian makan Soto Pojok. Setelah kenyang, kami pergi ke Tahu Poo. Tahu Poo adalah makanan kesukaan kakakku. Setelah puas jalan-jalan sekeluarga pulang ke rumah nenek dan kakek.
Sore ini aku dan ayahku membuat ketapel di kursi bambu.Di situ aku mengumpulkan bahan, mulai dari: kayu berbentuk Y, karet, karet pemental atau pentil dan kulit dompet. Aku dan ayah membuat pasangan karet pemental dan dikareti supaya tidak lepas.
Ibuku menyuruh aku mandi karena sudah jam 05.00 sore. Selesai mandi aku menonton TV bersama kakakku di ruang keluarga. Di malam hari rumah nenek dikunjungi tamu namanya Pak Pendeta karena aku tidak tahu namanya. Setelah tepat pukul 08.00 tamu itu pergi dan suasana pun hening.

Bersambung ( Ke Gereja )


Pentil : Karet pemental


Rabu, 5 Mei 2010
Agastya Pandu Wisesa (GAGAS)

Ke Gereja

Pagi hari sekali, kakekku sudah pergi ke gereja karena kakekku bekerja di gereja. Aku dan keluarga baru akan pergi pukul 06.00. Pagi hari kami menaiki angkot. Di tengah jalan aku melihat gereja nenek dan kakek yang tak pernah berubah.
Setelah turun dari angkot menyalimi orang-orang yang duduk di bangku. Setelah khotbah dimulai aku tenang tetapi kadang-kadang aku bosan sehingga aku biasa keluar gereja waktu khotbah.
Waktu khotbah selesai aku kembali masuk untuk berdoa kepada Tuhan. Selesai berdoa semua orang pada keluar karena acaranya sudah selesai. Aku dan keluarga pulang menaiki angkot. Sampai di rumah aku bermain pasir sambil menunggu nenek dan kakek pulang.

Bersambung (Pulang ke Rumah)

Rabu, 5 Mei 2010
Agastya Pandu Wisesa (GAGAS)

Sebuah Taman

Di hari ini aku berencana bermain bola bersama ayah.Sebelum membeli bola aku memakai sandal supaya kakiku tidak kotor. Setelah sampai di toko, aku menghitung uangku. Setelah itu aku bertanya kepada pemilik toko, “ Bu, bola itu harganya berapa?”
“Oh, yang ini harganya 2.000”
“Ya sudah bu yang itu saja”
“Terima kasih”
“Sama-sama”
Setelah membeli bola, aku dan ayahku pulang ke rumah nenek dan kakek. Setelah sampai depan rumah, kami bermain bola sepuasnya. Malam harinya aku berjalan-jalan ke luar karena ingin mencari angin segar. Sekalian aku juga ingin melihat taman di depan rumah nenek. Di sana aku melihat pohon mangga yang besar dan cabangnya ada 4. Setelah jam 07.00 aku masuk ke rumah nenek dan kakek untuk menikmati makan malam soto ayam yang dimasak oleh nenek.

Bersambung ( Ketapel )

Rabu, 5 Mei 2010
Agastya Pandu Wisesa (GAGAS)

Berlibur di Hari Natal

Tepatnya pukul 05.00 pagi, aku dan keluarga pergi ke rumah nenek dan kakek menumpangi bis Patas jurusan Surabaya-Kertosono-Tulungagung. Di loket ibuku membeli karcis. Sesudah ibuku membeli karcis, kami menunggu di dekat toko makanan. Ibuku bersama kakakku pergi ke toilet sedangkan aku dan ayahku pergi membeli makanan ringan dan minuman. Tak lupa aku juga membeli majalah bola dan koran.
Setelah ibuku kembali, aku dan keluarga berlari menuju pemberhentian bis dan memilih tempat duduk paling depan. Di perjalanan aku memikirkan apakah aku akan disambut oleh nenek dan kakek? Aku tak peduli. Langsung aku buka bungkusan Kentucky dengan sambal.
Tak terasa aku sudah hampir sampai, di kaca jendela aku melihat gereja nenek dan kakek. Sesudah bis berhenti aku langsung turun dan berlari ke rumah nenek dan kakek.Ternyata aku disambut dengan ramah.
Di rumah nenek aku bermain sepuasnya....

Bersambung (Sebuah Taman)

Selasa, 4 Mei 2010
Agastya Pandu Wisesa (GAGAS)

HARI YANG INDAH

Suatu pagi yang cerah, aku menyiram bunga Mawar dan Melati.Bunga itu sangat indah dipandang dan untuk pajangan.Hari ini, hari yang indah seolah menjadikan aku ada di imajinasiku.Natal...kata yang tepat untuk mencari kehangatan. Ini adalah hari Natal, hari raya umat Kristen.Hari yang menjadi hari kebanggaan umat Kristen.
Sore ini aku berencana menghias pohon Natal dan membuat kado untuk keluarga. Hari ini adalah hari yang indah, mengisi kebahagiaan bersama keluarga walaupun dalam duka dan suka.

Bersambung (Berlibur di hari Natal)

Selasa, 4 Mei 2010
Agastya Pandu Wisesa (GAGAS)

Digital Portofolio Milik Gagas

Berlatar belakang kesukaan Gagas dalam menulis, dan mulai menumpuknya buku-buku hasil coretan Gagas, maka Ortu Gagas mulai menggagas adanya wadah digital untuk anak lelaki mereka. Sayang jikalau hasil tulisan Gagas yang menunjukkan sejarahnya dalam mengenal kata-kata, diksi yang tak populer dalan aktivitas hidup keseharian, cerita yang sempat ia dengar lewat buku-buku yang dibacanya, tayangan TV dan Video yang ditontonnya, dan pengalaman realnya bersama keluarga dan teman-temannya, tidak tersimpan dengan baik. Oleh karena itu lahirnya Digital Portfolio yang bisa menyimpan hasil karya Gagas sampai kapan pun. Semoga bermanfaat untuk perkembangan Gagas kelak. (adhi dan endah, ortu Gagas, 14 Mei 2010)

Gagas & His Friends

Gagas & His Friends
Gagas berkaos merah, bercelana hijau, bersama kawan-kawan bermainnya.